Home / Berita / Jaran Kepang Angkat Budaya Temanggung di Jakarta

Jaran Kepang Angkat Budaya Temanggung di Jakarta

Berada di daerah yang sebagian besar pegunungan, salah satu kabupaten di Jawa Tengah menggantikan Kabupaten Menoreh, Temanggung, kini hadir di Museum Nasional, Jakarta (30/7).

Melalui seni budaya ‘Jaran Kepang’ atau dikenal juga dengan Kuda Lumping, Kartika Mutiara Sari, penggagas acara ‘Revitalisasi Jaran Kepang Temanggung’ ingin mengangkat kesenian khas Temanggung yang perlahan mulai hilang.

Prakarsa R. Soebagyono yang saat itu menjadi Kadin Kebudayaan Kabupaten Temanggung pada tahun 1972 atas seni ‘Jaran Kepang’, membuat pertunjukkan itu sangat dikenal dan menjadi kebanggaan masyarakat Temanggung. Seni pertunjukkan itu juga tampil saat pembukaan Taman Mini Indonesia Indah pada 1975 dengan 1500 penari.

Karena itu, Kartika yang merupakan putri sulung R. Soebagyono dan dosen tari Universitas Negeri Jakarta, bekerjasama dengan penulis Sundari Mardjuki menggelar acara Pasar-pasaran Temanggung yang bertujuan mengembalikan seni tari sesuai pakem semula sebagai pijakan pengembangan bentuk pertunjukkan Jaran Kepang.

15 penari diiringi 15 pemain musik dari Desa Lamuk, Temanggung, mempertontonkan kebolehannya di Taman Sanken, Museum Nasional Indonesia. Tarian ini juga akan dipertunjukkan pada Folklore Festival Republik Ceko, Agustus mendatang.

Sementara itu, selain adanya pertunjukkan tari dan pasar-pasaran, juga digelar bedah novel fiksi bergaya memoar, ‘Genduk’ oleh Sundari Mardjuki dan pameran ‘foto cerita’ Rahadyan P. Akhmad yang bercerita tentang petani tembakau Gunung Sindoro.

Novel yang menceritakan kehidupan petani tembakau tahun 1970an dari desa di puncak Gunung Sindoro, Temanggung. Tokoh utama, Genduk yang sedang mencari jati diri, melakukan pencarian pada ayahnya yang belum pernah dilihat seumur hidupnya. Konflik diceritakan saat kenyataan yang dihadapi Genduk mengenai sang ayah.

Sundari memadukan keindahan Gunung Sindoro dengan kehidupan petani saat itu yang memiliki kemelut kultur politik priyayi dan rakyat pribumi yang kentara. Melalui tokoh ‘aku’ Sundari menceritakan kegelisahan batin perempuan desa melawan struktur kepemimpinan lokal.

sumber : linesindonesia.com

Comments

comments

About admin

Portal Info kota Temanggung

Leave a Reply

x

Check Also

4 Miliar Tambahan Premi JKN

Pemerintah Kabupaten Temanggung membayar premi ...

©2017 Made With Love in Temanggung