Rofi’I adalah orang pertama yang saya temui di Temanggung, seorang petani tembakau dari desa Tlilir. Lelaki berperawakan kurus itu tidak pernah bosan membimbing saya untuk mengenal lebih dekat persoalan tembakau di Temanggung. “Pokoknya, selama berada di sini, kalian harus belajar banyak soal tembakau,” ujarnya siang itu.

Sepanjang jalan menuju desa Tlilir, pandangan mata terfokus pada hamparan tanaman tembakau di ladang. Memasuki desanya, pandangan mata beralih pada jemuran-jemuran tembakau di sepanjang jalan.

Di rumahnya, sajian teh hangat menambah obrolan kami saat itu. Mulai dari cerita pengalamannya saat ikut demonstrasi di Jakarta sampai membicarakan perpolitikan di Temanggung. Siang itu memang tidak terlalu banyak membicarakan budidaya tembakau. Obrolan lebih banyak mengenai pengalaman unik yang Rofi’i rasakan.

Usai berbincang hangat, Rofi’I mengantarkan kami ke Rumah Sugito. Sesama petani Temanggung. Lokasinya tak jauh dari rumah Rofi’i. Di rumah Sugito lah kami menetap selama 8 hari.

Hari pertama di Temanggung, kami diajarkan langsung bagaimana cara menggulung tembakau yang baik dan benar. Kebetulan di rumah, rofi’I sedang melakukan proses penggulungan tembakau yang sudah kering. Proses ini dilakukan jika

baca selengkapnya –> komunitaskretek.or.id

Comments

comments