Home / Berita / Pumulung Temanggung Manfaatkan Gas Sampah untuk Masak

Pumulung Temanggung Manfaatkan Gas Sampah untuk Masak

Puluhan pemulung sibuk mengais rezeki di tumpukan sampah yang baru saja ditumpahkan dari sebuah truk di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Di tengah terik matahari siang, mereka dengan tekun mengambil satu per satu sampah plastik maupun botol yang ditemukan, kemudian memasukannya ke dalam keranjang yang berada digendongannya. Mereka kini jarang menemukan sampah kardus di TPA, terkait dengan adanya gerakan bank sampah di masyarakat akhir-akhir ini, di mana sampah yang bisa didaur ulang dimanfaatkan lagi oleh warga sehingga tidak dibuang.

gas-metan-660x330

(ilustrasi)

Saat tengah hari, sebagian di antara mereka berhenti mengumpulkan sampah plastik untuk beristirahat, setelah sejak pagi bekerja dan mereka membawa keranjangnya menuju sebuah lapak yang berada di tepian tumpukan sampah. Setelah mencuci tangan, mereka yang membawa bekal makanan dari rumah langsung memakannya dengan lahap tanpa menghiraukan aroma sampah yang begitu menyengat.

Di antara mereka mengambil air yang sudah mendidih di sebuah panci di atas kompor yang terus menyala apinya untuk membuat teh atau kopi. Di tengah pemulung sedang istirahat tersebut, datang petugas TPA yang membawakan singkong mentah dalam sebuah tas plastik warna hitam yang baru dipanen dari salah satu sudut di kawasan TPA.

Tanpa pikir panjang, seorang pemulung langsung menghampiri petugas TPA yang membawa singkong tersebut. Kemudian singkong pun dikupas dan dipotong-potong untuk direbus. Setelah dicuci singkong dimasukkan ke dalam panci yang telah berisi air kemudian ditaruh di atas sebuah kompor yang telah menyala apinya. Beberapa waktu kemudian singkong pun matang dan disantap bersama-sama.

Mereka tampak menikmati singkong rebus yang telah matang. Sambil menikmati singkong rebus, mereka bersendau gurau untuk menghilangkan rasa bosan dan lelah.

Meskipun di sekeliling kompor, tidak terlihat tabung elpji dan kompor hanya tersambung dengan sebuah pipa paralon panjang dari tumpukan sampah, kompor bisa menyala dengan api kebiruan. Seorang pemulung warga Dusun Losari, Desa Sanggrahan, Kecamatan Kranggan, Tuyar (29 tahun) mengatakan, untuk sekadar merebus air atau merebus singkong di TPA ini, tidak usah memikirkan bahan bakarnya.

Tuyar mengungkapkan, di TPA ini, kompor bisa menyala terus dengan menggunakan gas metan yang dihasilkan dari tumpukan sampah.”Kami bebas menggunakan kompor, sewaktu-waktu kami bisa merebus air tanpa harus membeli bahan bakar,” ucapnya.

loading...

Dia mengatakan, pemanfaatan gas metan untuk menyalakan kompor ini sangat membantu pemulung untuk sekadar menikmati minum teh atau kopi saat istirahat. “Pendapatan kami hanya pas-pasan, sehingga kompor dengan bahan bakar gas metan ini sangat bermanfaat,” ujar bapak dari satu orang anak ini.

Ia menuturkan rata-rata sehari bisa mengumpulkan 20 kilogram sampah plastik. Setiap kilogram sampah plastik dihargai Rp 500 oleh pengumpul. “Kalau kerja dari pagi hingga sore hari minimal kami dapat Rp10 ribu dari hasil menjual plastik sampah,” ucapnya, lirih.

Gas metan di TPA tersebut juga disaluran melalui pipa paralon ke dapur kantor admnistrasi TPA yang terletak di bagian atas atau sisi timur TPA. Pengawas dan operator TPA Sanggrahan Yiliatno mengatakan, pemanfaatan gas metan di TPA ini mulai tahun 2014, setelah salah satu pegawai Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Temanggung mendapat pelatihan di provinsi.

“Waktu itu kami diberi oleh-oleh berupa ‘compact disc’ (CD) yang berisi cara pemanfaatan gas metan di sebuah TPA, kemudian kami praktikkan di sini dengan cara sederhana dari bahan seadanya,” tuturnya.

sumber : republika.co.id

Comments

comments

About admin

Portal Info kota Temanggung

Leave a Reply

x

Check Also

Bioskop Keliling BPCB Jateng Sambangi Temanggung

Bioskop keliling BPCB Jateng memulai ...

©2017 Made With Love in Temanggung