Home / Berita / Sadranan Kali Sidandang, Potensi Genjot Pariwisata Temanggung

Sadranan Kali Sidandang, Potensi Genjot Pariwisata Temanggung

Matahari mulai menyinari bumi saat petani kopi dan tembakau di Desa Tlahab, Kledung, Temanggung, Jawa Tengah (Jateng) menggelar upacara adat ritual Sadranan Kali Sidandang sebagai wujud syukur atas segala karunia yang diberian Tuhan Yang Maha Esa.

sadranan-kali-sidandang

Tiap keluarga membawa tenong berisi nasi, ingkung ayam kampung, aneka sayur dan buah serta jajan pasar menuju lokasi ritual, di sumber mata air Sidandang yang berada tidak jauh dari pemukiman.

Tua-muda, tumpah ruah memadati  lokasi ritual. Setelah dirasa semua warga datang semua,, seorang tokoh agama setempat pun memulai memimpin ritual dengan memanjatkan doa-doa. Usai berdoa, tanpa dikomando, tenong dibuka.

Satu persatu isi tenong dikeluarkan untuk selanjutnya dimakan bersama. Tidak sedikit yang tukar menukar isi, seperti lauk, buah dan jajan pasar, sebagai bukti kebersamaan, rasa senasib sepenanggungan dan kekeluargaa, serta kerukunan.

Kaur Kesra Desa Tlahab, Alif Misiyat mengatakan, kegiatan ini menjadi tradisi ritual yang dilakukan pada pagi hari begitu matahari terbit. Makanya, warga mulai memadati lokasi ritual setelah salat subuh.

“Ritual desa ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam dan digelar pagi hari. Kami tidak berani meninggalkannya,” kata dia, seperti dikutip dari KRjogja, Senin (14/11/2016).

Dia mengatakan, selain sebagai ungkapan rasa syukur, sadranan juga untuk mendoakan pendiri desa setempat yakni Kiai Jogorekso. Tidak hanya itu, nyadran ini juga untuk mengingatkan kepada warga agar bisa menyatu dengan alam, ikut menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan.

Kepala Desa Tlahab, Irwan menambahkan, ritual nyadran telah menjadi tradisi dan menjadi agenda tahunan yang wajib dilaksanakan pascapanen raya tembakau. Buruknya hasil panen diharapkan tidak menjadi alasan untuk tidak mengeluarkan sesajian pada ritual.  Namun kalau toh ada, itu tidak menjadi permasalahan.

“Dikemukakan pergelaran wayang kulit juga akan digelar selama dua malam dan dua malam dan hari. Wayang kulit ini adalah bagian dari tradisi itu,” tuturnya.

Ke depan, lanjutnya, tradisi nyadran ini akan dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata. Wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara bisa terjun langsung mengikuti prosesi nyadran kali ini. Selain prosesi ritual menjual untuk paket wisata, pemandangan di lokasi ritual juga sangat bagus.

“Harapannya dengan dijadikannya tradisi ini sebagai daya tarik wisata, bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke desa ini,” harapnya.

sumber : okezone.com

Comments

comments

About admin

Portal Info kota Temanggung

Leave a Reply

x

Check Also

Ritual Sadran 1.000 Ketupat Desa Ngemplak Lestarikan Budaya dan Kembangkan Potensi Wisata Temanggung

Warga Desa Ngemplak Kecamatan Kandangan ...

©2017 Made With Love in Temanggung