Sedekah Turonggo Bhumi Phala kedua yang digelar di lapangan Desa Gondang Winangun Kecamatan Ngadirejo sejak tanggal 23-25 November 2018, tak hanya mampu memecahkan rekor Muri (Musium rekor Indonesia) saja, melainkan tercatat juga dalam Guinness World Record.

Pejabat Muri Widyaningsih mengatakan, Sedekah Turonggo Bhumi Phala kedua yang digelar di lapangan Desa Gondang Winangun Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung ini, telah memecahkan rekor baru dalam kesenian tradisional jaran kepang.

Menurutnya, rekor sebelumnya dipegang oleh Kabupaten Demak yang menari jaran kepang selama 36 jam nonstop. Namun saat ini rekor yang sama dipegang oleh Temanggung dengan durasi waktu menari jaran kepang selama 46 jam nonstop.

“Rekor menari jaran kepang terlama saat ini dipegang oleh kelompok kesenian jaran kepang Temanggung,” terangnya, Minggu (25/11).

Sebenarnya kata Widyaningsih, untuk memecahkan rekor baru dalam kesenian tradisional jaran kepang ini hanya butuh 40 jam menari tanpa henti, sedangkan untuk kelompok kesenian jaran kepang Temanggung ini sudah menari selama 46 jam.

“Tidak hanya memecahkan rekor Muri saja, tapi menari tanpa henti yang dilakukan oleh kelompok kesenian jaran kepang di Temanggung ini sudah masuk dalam Guinness World Record,” katanya.

Sementara itu Yudha Sudarmaji Ketua Panitia Sedekah Turonggo Bhumi Phala mengatakan, pemecahan rekor Muri ini dilakukan oleh kelompok kesenian jaran kepang dari Desa Gandikan Kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung. Kelompok kesenian dari lereng Gunung Prau ini mulai menari jaran kepang sejak Jumat (22/11) pukul 14.50 hingga Minggu (25/11) pukul 13.00 Wib.

Oleh karena itu lanjutnya, piagam rekor Muri ini diserahkan kepada kelompok kesenian tersebut, mereka sudah berjuang bersama-sama dengan kelompoknya untuk memecahkan rekor Muri menari jaran kepang selama 46 jam nonstop.

“Hampir sau desa terlibat dalam pemecahan rekor ini, masyarakat Desa Gandikan ini sangat kompak sekali, tua, muda, laki-laki, perempuan berjuang bersama-sama memecahkan rekor,” terangnya.

Memang diakuinya dalam pemecahan rekor Muri ini ada kelompok kesenian lainnya yang ikut membantu, namun durasinya hanya sekitar satu sampai dua jam saja, selebihnya dilakukan oleh kelompok kesenian Turonggo Budoyo.

Selain pemecahan rekor Muri lanjut Yudha juga didirikan Tugu Kuda Lumping, tugu ini selain sebagai prasasti pemecahan rekor Muri juga sebagai persembahan kepada maestro jaran kepang Temanggung.

“Tugu ini kami persembahkan kepada tiga maestro jaran kepang Temanggung, mereka adalah Suwartono, Sunaryo Bulu dan Subagyono,” katanya.

Yudha juga mendorong pemerintah agar melakukan pembinaan dengan menempatkan kepentingan pelaku seni jaran kepang, selain itu dengan adanya kegiatan ini bertujuan untuk menumbuh kembangkan kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap Seni Jaran Kepang Temanggung. Membantu mempromosikan bangsa Indonesia khususnya Kabupaten Temanggung dalam dunia seni, budaya dan pariwisata.

Sedekah Turonggo Bhumi Phala ini lebih tertata dalam hal formasi lantai dan tata gerak. Sedekah Turonggo Bhumi Phala kedua adalah penyempurnaan dari yang pertama dan suatu kebanggaan  mampu memecahkan rekor Muri.

“Tahun lalu hanya ritual among budaya dan beksan sewu turangga (seribu penari), tahun ini ditambah pemecahan rekor MURI menari estafet nonstop 46 jam, dan penandatangan prasasti pada monumen jaran kepang,” tutupnya. (Set)

sumber : http://magelangekspres.com/berita/sedekah-turonggo-bhumi-phala-pecahkan-rekor-muri.html

Comments

comments