Home / Berita / Tolak Impor, Petani dan Pedagang Bawang di Parakan Demonstrasi

Tolak Impor, Petani dan Pedagang Bawang di Parakan Demonstrasi

Membanjirnya bawang merah impor di pasaran tanah air membuat geram para petani lokal dan pedagang kecil di Kabupaten Temanggung, lantaran berakibat harga bawang merah lokal menjadi anjlok. Kekesalan mereka pun kemudian ditumpahkan dalam sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan puluhan orang di area luar Pasar Legi Parakan, Kamis (16/3).

Tolak Impor, Petani dan Pedagang Bawang di Parakan Demonstrasi

Para demonstran memulai aksi dengan berkumpul di pasar pusat perekonomian terbesar kedua di Kabupaten Temanggung, kemudian beberapa di antaranya membentangkan spanduk-spanduk bertuliskan kecaman dan ungkapan kekecewaan, antara lain, “Tolak Bawang Impor”, Hidup Miskin Di Negeri Yang Kaya. Intinya mereka melakukan penolakan akan adanya impor sebab dianggap sangat tidak sehat dan merugikan wong cilik.

Selain meneriakan yel-yel dan orasi para peserta demonstrasi juga meluapkan kemarahan dengan menginjak-injak bawang impor sebagai bentuk perlawanan. Para petani dan pedagang juga membakar bawang impor yang dianggap sebagai biang kerok rusaknya tatanan niaga di kelas lokal.

“Kami menolak impor, sebab setelah bawang merah impor masuk maka harga bawang merah lokal menjadi anjlok. Sebagai contoh tahun 2016 harga bawang merah lokal masih diharga Rp 20 ribu per kilogram. Akan tetapi saat ini setelah banjir impor maka harganya jadi tidak stabil, cuma Rp 11 ribu per kilogram,”ujar Triyono (41) seorang pedagang bawang di Pasar Legi Parakan.

Menurut dia, sejak pemerintah mengeluarkan ijin masuknya impor bawang merah pada Febuari lalu, selang beberapa waktu kemudian bawang merah impor membanjiri Pasar Legi Parakan. Dalam sepekan saja setidaknya sudah ada sekitar 20 sampai 25 ton bawang merah per Minggu.

“Kami merasa dirugikan sebab sudah dua pekan ini bawang merah lokal sama sekali tidak laku, padahal sekarang petani lokal sudah mulai masuk masa panen raya. Daripada yang lokal konsumen jelas memilih bawang merah impor sebab harganya lebih murah, yaitu Rp 8 ribu hingga Rp 9 ribu per kilogram,”katanya.

Dari informasi yang diterimanya, sebenarnya ijin pemerintah untuk bawang impor ini hanya untuk kebutuhan industri saja, akan tetapi kenyataannya justru masuk dan marak dijual di pasaran umum seperti banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional.

Untuk memerangi membeludaknya bawang merah impor maka seluruh pedagang sudah mendantangani kesepakatan bersama untuk mengawasi peredaran bawang merah impor, terutama di Pasar Legi Parakan.

“Kami sudah menandatangani kesepakatan bersama, bagi pedagang yang melanggar akan ada sanksinya. Kami juga sudah membentuk satgas untuk mengawasi peredaran bawang merah impor. Hanya ada dua atau tiga pedagang saja yang bermain bawang merah impor, maka harus kita awasi dengan cermat,”katanya.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Temanggung Ronny Nurhastuti, mengaku telah menerima laporan adanya bawang merah impor yang masuk dan dijual bebas di Pasar Legi Parakan.

Laporan itu kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan koordinasi serta memberikan peringatan kepada pedagang bawang merah impor agar tidak lagi mendatangkan atau menjual ke pasar-pasar tradisional di Temanggung.

“Kami sudah melakukan upaya antisipasi, jangan sampai bawang merah impor kembali diperjualbelikan di pasar-pasar rakyat di Temanggung. Tidak hanya di pasar Legi Parakan, tapi semua pasar. Bawang merah impor didatangkan hanya untuk memenuhi kebutuhan industri saja, bukan untuk dijual bebas di pasar tradisional. Kami tidak mengetahui secara pasti kenapa bawang merah impor bisa diperjualbelikan di pasar tradisional,”terangnya.

sumber : berita.suaramerdeka.com / Raditia Yoni Ariya/CN39/SM Network

Comments

comments

About admin

Portal Info kota Temanggung

Leave a Reply

x

Check Also

Kebakaran di Gunung Sumbing Meluas, BPBD Datangkan Helikopter Kamov

Sudah lebih dari sepekan, kabakaran ...

©2017 Made With Love in Temanggung