Home / Berita / Tradisi Malam 1 Suro, Warga Gelar Kirab Suran Lurah Traji

Tradisi Malam 1 Suro, Warga Gelar Kirab Suran Lurah Traji

Ribuan pasang mata pengunjung baik dari dalam maupun luar daerah hingga turis mancanegara memadati jalannya prosesi ritual “Kirab Penganten Lurah Traji”, Senin (10/9) malam.

Adat budaya dalam menyambut datangnya malam 1 Suro dalam penanggalan kalender masyarakat Jawa ini digelar setiap tahun oleh masyarakat di Desa Traji Kecamatan Parakan Temanggung

Acara kirab sendiri dimulai dengan pemberangkatan arak-arakan rombongan dari kantor balai desa setempat yang dipimpin oleh pasukan pembawa obor. Tak hanya beragam sesajen berupa jajanan pasar dan gunungan hasil bumi saja, yang paling menarik perhatian, dalam arak-arakan tersebut pasangan kepala desa beserta istri didandani ala pengantin baru.

Mereka berjalan menuju sumber mata air bernama Sendang Sidukun yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai tempat yang sakral dan memiliki nilai histori panjang karena telah memberikan kehidupan bagi kalangan luas di sekitar wilayah tersebut.

Guna menambah suasana sakral, selama arak-arakan kirab, seluruh lampu di sepanjang jalan oleh panitia dimatikan selama beberapa menit, sehingga hanya menimbulkan efek cahaya dari nyala api obor.

Usai menempuh arak-arakan sepanjang ratusan meter, rombongan lantas memulai ritual utama di sekitar kawasan Sendang Sidukun. Pasangan pengantin lurah (kepala desa) lantas duduk bersimpuh di depan pintu masuk ruangan munculnya mata air sembari membacakan beberapa doa dengan asap dupa yang menusuk hidung.

Setelah itu, acara lantas dilanjutkan dengan membacakan doa terhadap beragam sesajen dan gunungan hasil bumi sebelum akhirnya diperebutkan para pengunjung yang mempercayai tuah apabila berhasil membawa pulang bagian dari gunungan tersebut.

Tak berhenti sampai di situ saja, ritual tersebut diakhiri dengan antrian para pengunjung yang berdesakan untuk berebut membawa pulang air dari umbul Sendang Sidukun atau diberi istilah ngalap berkah air yang juga tak kalah dipercaya memiliki tuah tertentu.

Menurut Yosef Heristyo Baruno (37), selaku panitia sekaligus Ketua Paguyuban Desa Wisata Traji, ritual Kirab Suran Lurah Traji tersebut sudah berlangsung sejak dahulu dan digelar secara turun-temurun setiap malam 1 Suro pada penanggalan masyarakat Jawa.

Ia menjelaskan, tradisi mengarak rombongan pengantin kepala desa sendiri bukannya tanpa alasan. Berdasar kisah di masa lampau, budaya ini terbentuk lantaran pada zaman dahulu ada salah seorang leluhur di Desa Trah Aji atau Traji yang kehilangan istri atau berpisah dalam jangka waktu yang cukup lama. Namun pada akhirnya, ia dipertemukan dengan isteri baru di wilayah tersebut dan berjanji akan menggelar arak-arakan mengelilingi desa dan dijadikan sebuah tradisi terus menerus di masa-masa mendatang.

“Itulah awal mula kirab malam satu Suro di Desa Traji ini. Jadi arak-arakan pengantin lurah sendiri memiliki nilai historis yang telah dilestarikan warga sejak dulu sampai sekarang, dan di masa-masa mendatang secara rutin tiap tahunnya,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa tradisi ngalap berkah dengan berebut air sendang serta gunungan juga telah menjadi tradisi lantaran dipercaya dapat membawa berkah tersendiri bagi para pengunjung yang berhasil mendapatkannya.

“Tentu saja semua itu berkah limpahan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Ngalap sendiri adalah bagian dari jalan menuju datangnya rezeki melalui sebuah tradisi budaya,” imbuhnya.

Sementara itu, Paryono Arsyo Siswoyo (58) salah seorang pengunjung berharap agar tradisi kirab di Desa Traji ini dapat terus berlangsung setiap tahunnya. Pasalnya, ia menganggap bahwa budaya suatu daerah merupakan simbol ciri khas dari daerah itu sendiri yang wajib dijaga oleh setiap generasi penerus.

Terlebih, dengan digelarnya tradisi tersebut, perekonomian warga sekitar dapat meningkat karena banyak menyedot animo wisatawan dari dalam, luar daerah, bahkan turis mancanegara karena keunikan budaya itu sendiri.

“Ini tradisi yang harustetap dijaga sekaligus dilestarikan sepanjang masa. Banyak nilai lebih yang bisa didapat. Salah satunya menjaga budaya masyarakat Jawa seperti pagelaran wayang hingga pertunjukan seni kuda lumping,” harapnya. (riz)

sumber : http://magelangekspres.com/berita/tradisi-malam-1-suro-warga-gelar-kirab-suran-lurah-traji.html

Comments

comments

About admin

Portal Info kota Temanggung
x

Check Also

4 Miliar Tambahan Premi JKN

Pemerintah Kabupaten Temanggung membayar premi ...

©2017 Made With Love in Temanggung