Seorang petugas Polres Kabupaten Semarang melakukan identifikasi sebuah temuan mortir di area Museum Kereta Api Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (15/10). Sebanyak tiga buah mortir ditemukan masih aktif oleh salah satu pekerja bangunan yang sedang melakukan penggalian tanah untuk membangun tiang besi didepan pintu loket masuk Museum Kereta Api Ambarawa, diperkirakan mortir jenis 81 ini merupakan sisa peninggalan perang Palagan Ambarawa. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/Rei/mes/14.

Sebuah mortir yang diduga peninggalan zaman Belanda ditemukan warga Kenalan, Desa Kranggan, Temanggung. Budi Marwoto, menemukan mortir tersebut di pinggir Sungai Progo tepatnya di bawah jembatan kereta api.

Seorang petugas Polres Kabupaten Semarang melakukan identifikasi sebuah temuan mortir di area Museum Kereta Api Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (15/10). Sebanyak tiga buah mortir ditemukan masih aktif oleh salah satu pekerja bangunan yang sedang melakukan penggalian tanah untuk membangun tiang besi didepan pintu loket masuk Museum Kereta Api Ambarawa, diperkirakan mortir jenis 81 ini merupakan sisa peninggalan perang Palagan Ambarawa. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/Rei/mes/14.
Penemuan mortir (ilustrasi)

Kapolsek Kranggan AKP Yanu Fajar Saptono di Temanggung, Senin (18/4) mengatakan mortir yang sudah karatan tersebut ditemukan Budi Marwoto sekitar pukul 05.45 WIB, saat dirinya mau buang hajat di sungai.

Ia mengatakan, mengetahui benda yang mencurigakan tersebut sebuah bahan peledak yang bersangkutan kemudian melapor ke polisi. Setelah itu polisi memasang garis polisi untuk mengamankan lokasi temuan mortir tersebut.

Danramil Kranggan, Kapten Inf Tri Rahmadi mengatakan, bahan peladak yang ditemukan tersebut jenis mortir 60 Tampela dan diduga peninggalan zaman penjajahan, karena kondisinya sudah berkarat.

“Mortir itu kemungkinan merupakan sisa zaman penjajahan atau perang kemerdekaan yang tidak sempat meledak, karena posisi jatuh yang tidak tepat atau miring. Kemungkinan mortir itu masih akitif,” ucapnya.

Ia menjelaskan mortir tersebut berukuran panjang sekitar 24 centimeter dengan diameter sekitar delapan centimeter.

Tri mengimbau masyarakat bila menemukan bahan peledak segera melaporkan kepada aparat agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Karena di sekitar jembatan Sungai Progo tersebut telah beberapa kali ditemukan bahan peledak.

Ia mengatakan pada 2015 tidak jauh lokasi penemuan mortir sekarang juga ditemukan proyektil mortir dengan ukuran panjang sekitar 30 centimeter dan diameter enam centimeter. Guna mengamankan temuan tersebut, Polres Temanggung telah berkoordinasi dengan Tim Gegana Polda Jateng untuk mengevakuasi bahan peledak tersebut.

sumber : nasional.republika.co.id

Comments

comments