Memasuki bulan suci Ramadan setiap tahunnya, jumlah jamaah serta kegiatan di Masjid Agung Darusalam Temanggung mengalami peningkatan cukup drastis. Selain terletak di pusat kota, ukurannya yang cukup besar juga mampu menampung jamaah dalam jumlah yang cukup banyak.

pic : instagram.com/iwanfit/

Masjid ini memiliki ciri khas berupa dua menara kembar hasil pemugaran pada tahun 2012 silam. Namun, terlepas dari fakta-fakta di atas, tak banyak yang mengetahui sejarah panjang maupun benda peninggalan yang masih dapat kita jumpai di masjid tersebut.

Sekretaris Takmir Masjid Agung Darusalam Temanggung, Bambang Subagyo menjelaskan, masjid ini dibangun pertama kali pada tahun 1835 semasa pemerintahan bupati pertama Temanggung KRT. Ario Djojonegoro yang tercatat menjabat sejak tahun 1834 sampai 1848 dengan nama Masjid Jami’ yang artinya adalah untuk berjamaah.

Dijelaskan, sampai saat ini Masjid Agung telah mengalami pemugaran sebanyak empat kali. Pertama pada tahun 1906 dan kedua pada tahun 1934 saat era kepemimpinan Bupati RM. Ario Tjokro Adi Koesoemo. Ketiga tahun 1985 pada masa Bupati Drs H. Sri Subagyo. Dan yang terakhir tahun 2012 saat era Bupati Hasyim Affandi.

“Hasil rehab terakhir adalah identitas baru berupa dua buah menara kembar serta dibangunnya jam matahari sebagai penanda masuknya waktu salat,” jelasnya, kemarin.

Diceritakan, dahulu kala, masjid ini juga menjadi simbol baca jateng.merdeka.com

Comments

comments